Disinformasi, Protes, dan Tuduhan Kudeta: Cara Iran Membaca Ancaman dari Amerika Serikat
By Admin
Iran-Amerika Memanas
nusakini.com, Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, pemerintah Iran memperkuat narasi tentang ancaman eksternal terhadap stabilitas nasionalnya. Dari peringatan soal disinformasi hingga tudingan kudeta, para pemimpin Iran menilai tekanan asing berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas.
Retorika keras kembali mengemuka dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat. Namun, alih-alih menyoroti semata isu negosiasi nuklir, para pemimpin Iran kini menekankan bahaya lain yang dinilai lebih mendesak: salah perhitungan strategis akibat informasi keliru.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa kekhawatiran utamanya bukan terletak pada kemungkinan perang terbuka, melainkan pada keputusan militer yang bisa diambil berdasarkan misinformasi atau disinformasi. Pernyataan ini mencerminkan kecemasan Teheran terhadap dinamika politik internasional yang sarat kepentingan.
Dalam wawancara dengan CNN, Araghchi menyebut adanya aktor-aktor tertentu yang diduga berupaya menyeret Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke dalam konflik dengan Iran. Menurutnya, dorongan semacam itu tidak didasarkan pada kepentingan perdamaian, melainkan agenda politik pihak-pihak tertentu.
Di saat yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperkuat narasi ancaman dari luar dengan menyinggung situasi domestik Iran. Ia menyatakan bahwa kerusuhan yang terjadi baru-baru ini di negaranya merupakan upaya kudeta yang berhasil digagalkan oleh pemerintah dan rakyat Iran.
Dalam pernyataan yang dikutip Bloomberg, Khamenei secara terbuka menuding Amerika Serikat berada di balik aksi-aksi protes tersebut. Meski tidak disertai bukti rinci, tudingan itu menegaskan pandangan resmi Teheran bahwa tekanan terhadap Iran tidak hanya berbentuk sanksi atau diplomasi, tetapi juga intervensi tidak langsung.
Khamenei juga berupaya membangun kepercayaan diri publik dengan menegaskan bahwa masyarakat Iran tidak gentar menghadapi ancaman dari luar. Ia menyatakan bahwa rakyat Iran tidak mudah terpengaruh oleh retorika intimidatif dan siap menghadapi konfrontasi yang dinilai sah dan adil.
Pernyataan ini dapat dibaca sebagai pesan ganda: ke dalam negeri untuk menjaga soliditas nasional, dan ke luar negeri untuk menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak akan dengan mudah melemahkan posisi Iran.
Namun, kombinasi antara tuduhan campur tangan asing, kekhawatiran akan disinformasi, dan ketegangan politik dengan Amerika Serikat menciptakan situasi yang rentan terhadap eskalasi. Dalam konteks ini, risiko konflik justru dinilai muncul dari kesalahan persepsi, bukan dari deklarasi perang terbuka.
Cara Iran membingkai situasi ini menunjukkan strategi komunikasi politik yang berupaya mengendalikan narasi, sekaligus memperingatkan bahwa konsekuensi dari informasi keliru dapat berdampak jauh lebih serius daripada sekadar perang kata-kata diplomatik. (*)